Kemenangan 6-2 atas Sassuolo menjadi panggung bagi lini serang Lazio untuk menunjukkan ketajamannya di Serie A. Delapan gol tercipta, satu kartu merah mengubah jalannya pertandingan, dan dua eksekusi penalti Lazio gagal berbuah gol. Di tengah kekacauan tersebut, Jay Idzes hanya bisa menyaksikan rekan-rekannya berjuang dari luar lapangan.
Bagi Lazio, hasil ini memperlihatkan betapa berbahayanya mereka ketika diberi ruang untuk menyerang. Sebaliknya, Sassuolo punya banyak hal yang perlu dievaluasi, terutama soal kedisiplinan dan kemampuan menjaga organisasi pertahanan ketika pertandingan mulai lepas dari kendali.
Lazio Langsung Menekan, Sassuolo Kehilangan Kendali
Lazio tidak membutuhkan waktu lama untuk membuka keunggulan. Kenneth Taylor mencetak gol pada menit kedua, tetapi Sassuolo sempat merespons melalui Kristian Thorstvedt.
Masalahnya, Sassuolo kesulitan menjaga keseimbangan permainan. Gustav Isaksen membawa Lazio kembali unggul, lalu Romano Floriani Mussolini ikut mencatatkan namanya di papan skor. Tekanan Lazio membuat pertahanan tuan rumah terus berada dalam situasi sulit.
Kartu merah yang diterima Thorstvedt pada menit ke-32 menjadi pukulan berikutnya. Bermain dengan sepuluh orang melawan tim yang sedang percaya diri jelas bukan situasi ideal. Sassuolo memang sempat memperkecil ketertinggalan melalui Sebastiano Esposito, tetapi Mattia Zaccagni kembali menjauhkan Lazio sebelum turun minum.
Skor 4-2 saat jeda sudah cukup menggambarkan betapa terbukanya pertandingan ini. Sassuolo masih mampu mencetak gol, tetapi mereka kesulitan menghentikan serangan lawan.
Dua Penalti Gagal Tak Menghentikan Lazio
Selepas jeda, Lazio mendapat kesempatan untuk menambah keunggulan melalui titik putih. Zaccagni gagal menuntaskan penalti setelah tendangannya dihentikan kiper Stefano Turati. Peluang serupa kembali terbuang ketika eksekusi penalti berikutnya juga tidak menghasilkan gol.
Dua kegagalan itu semestinya bisa membuka celah bagi Sassuolo untuk kembali membangun momentum. Namun, Lazio tetap memegang kendali dan tidak membiarkan lawannya memanfaatkan situasi tersebut.
Tijjani Noslin kemudian memastikan kemenangan Lazio lewat dua gol pada menit ke-55 dan ke-65. Brace itu menutup malam yang mengecewakan bagi Sassuolo sekaligus memperlihatkan bahwa Lazio punya pemain yang mampu menghukum lawan ketika mendapatkan ruang di area berbahaya.
Absennya Jay Idzes Menambah Sorotan ke Lini Belakang Sassuolo
Jay Idzes tidak tampil dalam pertandingan ini karena masalah cedera otot paha. Absennya bek Timnas Indonesia tersebut membuat perhatian publik Indonesia tertuju pada kondisi pertahanan Sassuolo yang kebobolan enam gol.
Namun, terlalu sederhana jika seluruh masalah Sassuolo hanya dikaitkan dengan absennya Idzes. Kartu merah, buruknya koordinasi antarpemain, serta kegagalan membendung serangan Lazio menjadi bagian dari persoalan yang lebih besar.
Dari perspektif taktik, pertandingan ini menjadi pengingat bahwa menghadapi tim dengan daya serang agresif membutuhkan organisasi pertahanan yang disiplin. Begitu struktur permainan berantakan, celah sekecil apa pun bisa berubah menjadi peluang gol.
Lazio layak mendapat pujian atas efektivitas serangannya. Sementara bagi Sassuolo, kekalahan ini seharusnya menjadi bahan evaluasi serius, bukan sekadar hasil buruk yang dilupakan setelah pertandingan berakhir.