Pelatih Persija Jakarta, Shin Tae-yong, tak sepakat jika timnya harus kehilangan poin akibat insiden penyerangan bus Persib Bandung U-18 di Rest Area KM 360 Batang, Jawa Tengah. Baginya, penanganan kasus kekerasan harus menyasar pihak yang benar-benar melakukan pelanggaran, bukan buru-buru membebankan seluruh kesalahan kepada klub.
Shin Tae-yong Soroti Batas Tanggung Jawab Klub
Perdebatan ini muncul setelah rombongan Persib U-18 mengalami penyerangan saat berada di perjalanan. Insiden yang melibatkan oknum suporter tersebut memicu kecaman dan desakan agar Persija menerima sanksi, termasuk pengurangan poin Persija dalam kompetisi Super League 2026/2027.

Shin Tae-yong memahami bahwa klub tidak bisa lepas tangan dari persoalan perilaku pendukungnya. Namun, menurut pelatih asal Korea Selatan tersebut, ada batas kewenangan yang perlu diperhitungkan, terutama ketika kejadian berlangsung di luar stadion dan bukan saat pertandingan.
“Bagian yang harus dipertanggungjawabkan klub memang harus dipertanggungjawabkan, tetapi saya pikir klub tidak bisa mengendalikan semua sampai hal-hal seperti ini,” ujar Shin kepada awak media pada 15 Oktober 2026.
Pernyataan itu memperlihatkan perbedaan antara tanggung jawab moral klub dan pertanggungjawaban atas tindakan individu. Keduanya memang berkaitan, tetapi tidak otomatis bisa disamakan dalam setiap kasus.
Pengurangan Poin Persija Perlu Dasar yang Jelas
Dari sudut pandang sepak bola, sanksi disiplin seharusnya tidak ditentukan hanya berdasarkan tekanan publik. Sanksi Persija Jakarta perlu dinilai berdasarkan regulasi yang berlaku, bukti yang tersedia, serta keterkaitan tindakan pelaku dengan tanggung jawab klub menurut aturan kompetisi.
Shin mempertanyakan bagaimana manajemen bisa mengawasi setiap suporter ketika mereka berada di tempat umum. Ia menilai tidak masuk akal jika seluruh konsekuensi langsung dibebankan kepada klub tanpa melihat siapa yang melakukan tindakan tersebut dan bagaimana peristiwa itu terjadi.
Meski begitu, persoalan ini juga menjadi pengingat bahwa klub dan kelompok suporter perlu membangun budaya dukungan yang lebih bertanggung jawab. Rivalitas dengan Persib Bandung tidak semestinya menjadi alasan untuk melakukan kekerasan.
Pelaku Harus Diproses, Rivalitas Jangan Keblabasan
Shin meminta aparat penegak hukum menangkap dan menindak pihak yang terbukti terlibat dalam penyerangan bus Persib U-18. Menurutnya, tindakan tegas diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali mencoreng sepak bola Indonesia.
“Orang-orang yang melakukan pelanggaran harus ditangkap dan ditindak tegas oleh aparat penegak hukum agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.
Pada akhirnya, ada dua hal yang perlu berjalan beriringan: penegakan hukum terhadap pelaku dan pemeriksaan disiplin berdasarkan aturan yang sah. Rivalitas Persija dan Persib boleh panas di lapangan, tetapi keselamatan pemain, ofisial, dan suporter tetap harus menjadi prioritas.