Kadang ada pertandingan yang nggak perlu lama buat bikin lo sadar siapa yang bakal ngatur permainan. Inggris versus Spanyol di matchday pertama Grup 3 UEFA Nations League ini persis kayak gitu. Baru dua menit jalan, Wembley udah dibungkam.
Lamine Yamal, anak yang umurnya belum genap dua puluh tapi udah diperlakukan kayak veteran, nyolong bola dari kaki Marc Guehi tepat di depan kotak penalti. Dari situ dia nggak buru-buru. Dia bawa bola, cari sudut, lalu lepas ke tiang jauh. James Trafford cuma bisa nonton, Satu nol.
Dan jujur, kalau aja Ferran Torres nggak lagi-lagi buang peluang, pertandingan ini bisa selesai sebelum jeda. Menit delapan dia cetak gol, dianulir karena offside. Menit enam belas, lolos dari Jarell Quansah, tinggal berhadapan sama Trafford, tapi bola dibendung. Menit dua puluh tujuh, satu lawan satu lagi, dan lagi-lagi melenceng. Kalau gue jadi pelatih Spanyol, gue udah angkat tangan di pinggir lapangan.
Inggris? Mereka kayak orang yang baru inget punya pekerjaan rumah. Menit tiga puluh enam baru bangun. Anthony Gordon menerima bola dari Jude Bellingham, ngasih balik, terus nyusup ke kotak penalti. Tendangan jarak dekat, Unai Simon kalah. Satu satu.
Empat menit kemudian, Wembley berubah jadi stadion paling berisik di Eropa malam itu. Nico O’Reilly kirim umpan silang dari kiri, Harry Kane nyundul, bola sempat kena Marc Cucurella, dan Simon nggak bisa berbuat apa-apa. Dua satu. Kane, kapten yang selalu ada di momen kayak gini.
Baca juga: Lamine Yamal: Anak Rocafonda yang Bikin Sepak Bola Terasa Baru Lagi
Babak Kedua: Ketika Spanyol Ingat Mereka Juara Dunia

Masuk babak kedua, Inggris milih main aman. Bertahan, nunggu, berharap Spanyol kehabisan ide. Masalahnya, Spanyol itu juara dunia 2026. Mereka nggak kehabisan ide. Mereka cuma butuh waktu.
Menit lima puluh dua, Inggris malah dapet penalti. VAR bilang Rodri melanggar Bellingham. Pemain Spanyol protes, dan kalau lo lihat ulang, kontaknya emang tipis. Tapi Kane maju, dan bola menghantam mistar. Di situ gue mulai curiga, ini bukan malam Inggris.
Spanyol makin berani. Menit enam puluh, Yamal dan Baena main umpan satu-dua yang bikin lini belakang Inggris muter kayak komedi. Trafford masih selamat. Tapi cuma sampai menit enam puluh lima.
O’Reilly salah umpan. Dani Olmo nyerobot, langsung kasih ke Alex Baena. Baena nggak pikir panjang. Dua dua. Dan dari situ, lo bisa lihat bahu pemain Inggris turun. Bahasa tubuh mereka bilang, “kita dalam masalah.”
Sembilan menit kemudian, masalah itu jadi bencana. Baena, lagi-lagi dia, ngirim umpan terobosan di tengah kerumunan pemain Inggris. Mikel Oyarzabal terima, dan dengan tenang nyungkil bola lewat Trafford. Tiga dua. Wembley sunyi. Spanyol merayakan.
Baca juga: Mbappe Jadi Pembeda, Zidane Menang di Debut Prancis
Yang Bikin Gue Angkat Topi
Ada satu hal yang jarang dibahas orang. Spanyol cuma ganti tiga pemain dari starting eleven final Piala Dunia lalu. Eric Garcia masuk ganti Pedro Porro yang cedera, Ferran dan Nico Williams ngisi tempat Oyarzabal dan Baena. Itu artinya, tim ini udah nyambung satu sama lain. Nggak perlu adaptasi lama. Sementara Inggris, dengan semua nama besar mereka, masih keliatan kayak tim yang lagi nyari jati diri di lini belakang.
Dan bicara soal nama besar, malam itu jadi pengingat pahit. Harry Kane mencetak gol, tapi juga gagal penalti. Jude Bellingham main bagus, tapi dikelilingi pemain yang kayak nggak nyambung. Sementara di sisi lain, Lamine Yamal, Alex Baena, dan Mikel Oyarzabal main kayak mereka udah sepuluh tahun bareng.
Apa Artinya Buat Grup 3?
Kemenangan ini bikin Spanyol sementara memuncaki Grup 3 dengan tiga poin, unggul selisih gol atas Kroasia. Inggris? Mereka harus segera bangkit, karena di grup sekeras ini, kalah di kandang sendiri itu mahal.
Buat lo yang nggak nonton, ini bukan cuma soal skor. Ini soal bagaimana sebuah tim yang lagi di puncak kepercayaan diri bisa membalikkan keadaan di kandang lawan, dan bagaimana tim yang punya segalanya kecuali kestabilan, harus pulang dengan kepala tertunduk.
Sepak bola kadang sesederhana itu.